-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trisakti News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Nestapa di Balik Pembangunan: Tangis Nurainun Pecah, Rumah Digusur dengan Ganti Rugi Rp1,5 Juta

    88Group
    Sabtu, 09 Mei 2026, Mei 09, 2026 WIB Last Updated 2026-05-09T09:37:09Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    Batu Bara | TrisaktiNews: Isak tangis Nurainun (66) pecah di atas puing-puing bangunan yang dulu ia sebut rumah. Warga Jalan Pendidikan, Kelurahan IV Labuhan Ruku, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara ini hanya bisa terduduk lesu memeluk cucunya saat alat berat meratakan tempat tinggalnya, Jumat (8/5).


    Di masa senjanya, perempuan yang akrab disapa Mak Inun ini harus menelan pil pahit. Alih-alih menikmati masa tua dengan tenang, ia kini terpaksa hidup terlunta-lunta setelah rumah yang puluhan tahun ditempatinya digusur untuk proyek pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih.


    Ganti Rugi yang Dinilai Menghina Kemanusiaan

    Persoalan utama yang menyayat hati Nurainun bukan sekadar hilangnya atap untuk berteduh, melainkan nilai kompensasi yang dinilai jauh dari asas keadilan. Ia mengaku hanya menerima uang ganti rugi sebesar Rp1.500.000.


    "Sungguh tidak manusiawi. Uang segitu mau buat apa? Cari kontrakan saja susah, apalagi membangun tempat tinggal baru," ujar Nurainun dengan suara bergetar dan mata yang sembab.


    Baginya, angka tersebut bukan sekadar tidak layak, namun seolah mengabaikan martabat keluarganya sebagai warga negara. Dengan uang tersebut, mustahil bagi Nurainun untuk memboyong anak, menantu, dan cucu-cucunya mendapatkan hunian pengganti yang layak.


    Bertahan di Bawah Langit Terbuka

    Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Tanpa pilihan lain, Nurainun dan keluarga besar masih mencoba bertahan di lokasi penggusuran. Mereka mendirikan tempat perlindungan darurat dari sisa-sisa material bangunan dan peralatan seadanya.


    Keluarga ini kini terpapar debu dan panas, serta ancaman hujan yang bisa datang sewaktu-waktu. Ironi ini terjadi tepat di lahan yang diproyeksikan menjadi simbol penguatan ekonomi melalui koperasi.


    Menanti Keadilan dan Atensi Pemerintah

    Hingga berita ini diturunkan, Nurainun hanya bisa menggantungkan harapan pada nurani para pemangku kebijakan. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Batu Bara atau pihak pengembang memberikan solusi yang lebih memanusiakan manusia.


    Kisah Nurainun menjadi potret buram pembangunan yang kerap kali menempatkan masyarakat kecil sebagai korban di sisi pinggiran. Di usia 66 tahun, Nurainun tidak meminta kemewahan—ia hanya meminta keadilan untuk dapat menutup mata di bawah atap yang layak, bukan di atas tanah yang baru saja dirampas darinya.

    (Erda)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini