Siau |Trisakti news : Aksi damai yang berlangsung di Pelabuhan Ulu Siau menjadi ruang bagi suara kemanusiaan untuk bergema. Di bawah langit yang teduh, puluhan warga dan mahasiswa berkumpul bukan untuk membuat keributan, melainkan untuk mengantar jeritan hati sebuah keluarga yang kehilangan harapan, sekaligus menuntut keadilan bagi Evia Mangolo.
Suasana aksi semakin haru ketika lagu “Papa Buruh Bagasi (Takdir Bukan Hukuman)” mengiringi langkah peserta. Lagu itu menjadi simbol perjuangan orang kecil, sekaligus menggambarkan realitas kehidupan keluarga Evia yang sederhana namun penuh harapan terhadap masa depan pendidikan anak mereka.
Di tengah kerumunan, Justhon Horman, mantan Ketua Senat Mahasiswa FIP UNIMA periode 2006–2007, berdiri sebagai orator utama. Dengan suara tegas namun sarat emosi, ia membuka orasi dengan salam yang menggugah kesadaran, “Syalom, salam keadilan, salam kemanusiaan!”
Ia menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar aksi biasa, melainkan panggilan moral. “Hari ini kita berdiri di Pelabuhan Ulu Siau bukan untuk membuat keributan, tetapi untuk mengantar jeritan hati sebuah keluarga, sebuah daerah, dan sebuah generasi yang menuntut keadilan,” ujarnya di hadapan peserta aksi.
Menurut Justhon, perjuangan yang mereka suarakan bukan soal popularitas atau sensasi. “Yang kita perjuangkan bukan angka, bukan popularitas, bukan sekadar ‘kasus’ belaka. Yang kita perjuangkan adalah seorang anak bernama Evia Mangolo,” katanya dengan penuh penekanan.
Evia dikenal sebagai mahasiswi PGSD semester akhir yang memiliki mimpi besar. Ia adalah anak daerah Sitaro yang menjadikan pendidikan sebagai jalan keluar dari keterbatasan hidup dan sebagai harapan untuk kembali mengabdi di kampung halamannya.
Kehidupan Evia dan keluarganya jauh dari kemewahan. Ayahnya bekerja sebagai buruh bagasi dan merupakan penyandang disabilitas, sementara ibunya hanya pekerja serabutan. Namun, keterbatasan itu tidak pernah memadamkan semangat mereka untuk melihat Evia menjadi sarjana.
“Setiap hari orang tuanya bekerja bukan untuk menjadi kaya, tetapi agar anaknya bisa kuliah, agar Evia bisa berdiri tegak sebagai sarjana pendidikan,” tutur Justhon, menggambarkan perjuangan keluarga yang penuh pengorbanan.
Namun harapan itu kini berubah menjadi duka mendalam. Evia tidak kembali membawa toga atau ijazah seperti yang diimpikan, melainkan pulang dalam peti jenazah, meninggalkan luka yang tak mudah disembuhkan bagi keluarga dan masyarakat.
Dalam orasinya, Justhon juga menyinggung dugaan serius yang menyelimuti kematian Evia. Ia menyebut adanya dugaan pelecehan oleh oknum dosen, sosok yang seharusnya menjadi pendidik dan pelindung mahasiswa.
“Kampus adalah ruang aman, bukan ruang trauma. Dosen adalah pendidik, bukan penguasa tubuh dan martabat mahasiswa,” tegasnya, yang langsung disambut dengan sorakan dukungan dari peserta aksi.
Ia menilai, jika dugaan tersebut benar, maka peristiwa itu bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan kejahatan kemanusiaan. “Ini adalah pengkhianatan terhadap dunia pendidikan,” katanya dengan nada penuh kekecewaan.
Justhon juga mempertanyakan sikap institusi pendidikan dalam menghadapi kasus tersebut. “Di mana keberanian institusi untuk berdiri di pihak korban? Apakah nama baik kampus lebih penting daripada nyawa seorang mahasiswa miskin?” ucapnya lantang.
Aksi damai itu juga menjadi bentuk penolakan terhadap budaya membungkam korban. Peserta aksi menyuarakan penolakan terhadap praktik melindungi pelaku dan keadilan yang terhambat oleh birokrasi.
Sebagai mantan aktivis mahasiswa, Justhon menegaskan bahwa semangat perjuangan mahasiswa tidak pernah padam. “Gerakan mahasiswa tidak pernah mati. Ia hidup setiap kali keadilan diinjak-injak,” katanya, membakar semangat peserta aksi.
Ia juga menyampaikan tuntutan kepada aparat penegak hukum agar mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan. Selain itu, ia meminta institusi pendidikan untuk tidak berlindung di balik jabatan dan prosedur.
“Kami tidak ingin ada Evia-Evia berikutnya. Kami tidak ingin mahasiswa hidup dalam ketakutan,” ujarnya, menegaskan bahwa aksi ini adalah peringatan bagi semua pihak.
Dalam bagian paling menyentuh, Justhon menyampaikan pesan kepada keluarga Evia. “Untuk ayah dan ibu Evia Mangolo, kalian tidak sendiri. Air mata kalian adalah panggilan bagi kami semua untuk melawan ketidakadilan,” katanya dengan suara bergetar.
Dari Pelabuhan Ulu Siau, suara keadilan itu dikirimkan sebagai pesan kepada seluruh negeri. Peserta aksi berharap hukum dapat ditegakkan tanpa memandang jabatan atau status sosial.
Aksi damai tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap keadilan masih hidup. Dengan penuh harap, mereka menutup aksi dengan seruan bersama, “Keadilan untuk Evia Mangolo! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Sitaro!” seruan yang menggema, membawa harapan bahwa keadilan suatu hari benar-benar akan terwujud.
(Reporter Jafry Rarang).
