Medan | Trisakti news : Sejumlah pelajar di Kota Medan nekat menyeberangi Sungai Deli dengan hanya mengandalkan pijakan pada pipa air. Kondisi ini terjadi di aliran Sungai Deli, tepatnya di perbatasan Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, dan Kelurahan Pangkalan Mansyur, Kecamatan Medan Johor.
Saat dicek langsung ke lokasi, berdasarkan amatan, para pelajar tampak melintasi pipa air berdiameter sekitar 30 hingga 40 sentimeter yang membentang sepanjang kurang lebih 50 sampai 60 meter. Meski berada pada ketinggian belasan meter dari permukaan sungai, mereka terlihat melintas tanpa ragu.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, sebagian besar pelajar menggunakan jalur tersebut saat pulang sekolah.
Salah seorang pelajar yang ditemui di lokasi, Al Zacky Pramudia, mengaku cukup sering menggunakan jalur tersebut untuk pulang ke rumah.
“Pertama takut, makanya merangkak. Tapi sekarang sudah biasa. Kalau pulang sekolah saja lewat sini,” ujar Zacky, Rabu (15/4/2026).
Menurut pengakuannya, saat pertama kali melintas ia merasa sangat gugup. Namun seiring waktu, rasa takut itu berkurang karena sudah terbiasa.
Diketahui, di atas aliran sungai tersebut dulunya terdapat jembatan penyeberangan bekas jalur perlintasan kereta api. Namun pada tahun 2024, jembatan yang sempat beberapa kali diperbaiki itu akhirnya roboh dan tidak lagi bisa digunakan. Saat ini, di sekitar lokasi sudah tidak terlihat sisa besi jembatan, hanya tersisa beton penahan di sisi sungai.
Saat ditanya alasan nekat melintas di atas pipa air PDAM, Zacky mengaku jalur tersebut merupakan akses paling dekat menuju rumahnya. Selain itu, jalur ini juga dianggap lebih hemat biaya transportasi.
“Lebih dekat kalau dari sini, biar hemat juga duit,” katanya.
Pelajar kelas satu SMP itu menambahkan, ia hanya menggunakan jalur tersebut saat pulang sekolah, sementara saat berangkat ia diantar oleh orang tuanya.
“Sudah dari pertama masuk SMP pulangnya dari sini. Kalau dulu takut, tapi sekarang sudah bisa,” ucapnya.
Di lokasi yang sama, Kepala Lingkungan (Kepling) 21 Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Lestari, membenarkan bahwa masih cukup banyak pelajar yang menggunakan jalur berbahaya tersebut untuk akses menuju sekolah.
Padahal, pihak pemerintah bersama warga sekitar telah berulang kali melarang para pelajar melintas demi keselamatan mereka.
“Enggak semuanya pelajar lewat sini. Hanya beberapa murid yang nekat melintasi jalan ini. Mungkin karena tidak ada ongkos atau bagaimana. Atau mereka dikasih ongkos untuk angkot tapi tidak dimanfaatkan,” ujar Lestari.
Ia mengatakan, kebanyakan pelajar yang melintas berasal dari wilayah Kecamatan Medan Polonia. Sebelumnya, jembatan yang kini roboh itu memang menjadi penghubung tiga wilayah, yakni Kecamatan Medan Maimun, Kecamatan Medan Polonia, dan Kecamatan Medan Johor.
“Biasanya orang dari Kecamatan Polonia itu. Saya tidak tahu apakah orang tuanya tahu mereka menyeberang. Kami bersama warga juga sudah beberapa kali menegur supaya tidak lewat dari sini, tapi mungkin karena jaraknya lebih dekat jadi mereka tetap nekat melintas,” ungkapnya.
Lestari menuturkan, dahulu lokasi tersebut merupakan jalur lintasan rel kereta api peninggalan zaman Belanda. Setelah tidak lagi difungsikan sebagai rel kereta, jalur itu kemudian dimanfaatkan warga sebagai jembatan penyeberangan.
“Awalnya perlintasan kereta. Sudah lama, lama sekali. Dari zaman Belanda kalau tidak salah. Cuma pernah jembatan ini miring, lalu ada yang memperbaiki jalannya, sudah bagus. Dibangun pakai papan untuk bawahnya,” katanya.
Di salah satu titik di bibir bekas jembatan, masih tampak sebuah prasasti berisi ucapan terima kasih masyarakat Gang Perbatasan atas perbaikan jembatan oleh seorang dermawan pada tahun 2023. Namun, jembatan tersebut kembali ambruk pada tahun 2024, sehingga hanya bertahan sekitar satu tahun setelah diperbaiki.
(Red).
