-->
  • Jelajahi

    Copyright © Trisakti News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Hujan Deras Tak Membungkam Suara Rakyat, Gejayan Memanggil Bawa 10 Tuntutan untuk Indonesia

    88Group
    Minggu, 14 Juni 2026, Juni 14, 2026 WIB Last Updated 2026-06-14T04:13:25Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    Yogyakarta | TrisaktiNews: Aksi massa demo dengan membawa spandul bertajuk “Gejayan Memanggil Bersama Jaga Warga Yogya dan UGM Melawan” tetap berlangsung meski sempat mengalami keterlambatan dari jadwal yang telah ditentukan. Hujan yang mengguyur kawasan Bulaksumur tidak menyurutkan semangat mahasiswa, komunitas masyarakat sipil, dan elemen Jaga Warga Yogya untuk menyuarakan aspirasi mereka di ruang publik, Sabtu (13/6/2026).


    Sejak pukul 14.00 siang hari, peserta aksi mulai berkumpul di sekitar kawasan Bulaksumur dan berjalan menuju pertigaan Traffic Light Gejayan. Dengan membawa spanduk, poster, serta pengeras suara, massa menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Meski cuaca kurang bersahabat dan hujan turun beberapa kali, peserta tetap bertahan hingga seluruh rangkaian aksi selesai dilaksanakan.


    Pengamanan aksi dilakukan secara humanis oleh aparat dari Polsek Bulaksumur dan Polsek Depok Barat yang berjaga di sekitar lokasi guna memastikan kegiatan berlangsung aman, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.


    Salah satu pemandangan yang mendapat apresiasi dari peserta aksi adalah kehadiran komunitas ibu-ibu dari Kecamatan Wirobrajan. Di tengah hujan dan berlangsungnya demonstrasi, para ibu tersebut menunjukkan kepedulian mereka terhadap para mahasiswa yang menyuarakan berbagai persoalan dan kepedihan yang dirasakan warga Yogyakarta. 


    Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga secara sukarela membersihkan area aksi dengan mengumpulkan sampah berupa puntung rokok, botol minuman, dan kemasan plastik yang ditinggalkan peserta kegiatan.


    Aksi gotong royong tersebut mendapat sambutan positif dari mahasiswa dan masyarakat yang hadir. Kehadiran para ibu dari Wirobrajan dinilai mencerminkan semangat solidaritas warga Yogyakarta yang selama ini dikenal kuat dalam menjaga kebersamaan, kepedulian sosial, dan kebersihan ruang publik. Di tengah penyampaian aspirasi politik, mereka menunjukkan bahwa gerakan rakyat juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata menjaga lingkungan dan fasilitas umum.


    Dalam aksi tersebut, aliansi mahasiswa, komunitas masyarakat sipil, dan Jaga Warga Yogya membacakan 10 Tuntutan Rakyat yang menjadi sikap bersama gerakan. Tuntutan tersebut meliputi:

    1. Menghentikan program Makan Bergizi Gratis yang dinilai rawan korupsi dan minim pengawasan publik.

    2. Menolak Koperasi Desa Merah Putih yang dianggap berpotensi menyimpang dari prinsip ekonomi rakyat.

    3. Mencabut revisi UU TNI, UU Polri, UU Kejaksaan, dan UU Peradilan Militer serta mengakhiri impunitas aparat.

    4. Mewujudkan pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia.

    5. Menjamin layanan kesehatan gratis yang dapat diakses tanpa diskriminasi.

    6. Memulihkan kesejahteraan ekonomi rakyat melalui penurunan harga kebutuhan pokok, BBM, dan tarif layanan dasar.

    7. Melindungi hak-hak pekerja serta menghentikan berbagai bentuk eksploitasi tenaga kerja.

    8. Menindak perusahaan aplikasi transportasi online yang dianggap melanggar aturan kemitraan serta melibatkan organisasi pengemudi dalam penyusunan regulasi.

    9. Membebaskan tahanan politik dan menghentikan kriminalisasi terhadap warga yang menyampaikan kritik.

    10. Menjamin hak rakyat atas tanah, perumahan, dan ruang hidup yang layak serta mengusut dugaan korupsi Stadion Mandala Krida Yogyakarta.

    Beberapa Koordinator aksi dari beberapa Universitas di Yogyakarta menegaskan bahwa gerakan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap berbagai persoalan yang dihadapi rakyat. Menurut mereka, demonstrasi bukan sekadar penyampaian kritik, tetapi juga upaya mengawal demokrasi agar tetap berpihak kepada kepentingan publik.

    Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di hadapan massa, peserta aksi menegaskan penolakan terhadap praktik politik yang dinilai semakin menjauh dari kepentingan rakyat. Mereka juga menolak segala bentuk pembungkaman kritik serta menyerukan penguatan demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat, berkumpul, dan menyampaikan aspirasi.


    Di tengah derasnya hujan yang mengguyur kawasan aksi, semangat mahasiswa, komunitas rakyat, dan warga Yogyakarta tidak surut. Kehadiran ibu-ibu Wirobrajan bersama para komunitas Jaga Warga DIY yang ikut menjaga kebersihan lokasi menjadi simbol bahwa perjuangan menyuarakan aspirasi rakyat dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Semangat gotong royong dan solidaritas itulah yang menjadi salah satu wajah khas gerakan rakyat di Yogyakarta.(Ginting)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini