Kekecewaan tersebut muncul setelah pihak sekolah menerima menu makanan yang kualitasnya dianggap tidak memenuhi standar kelayakan gizi dan kebersihan. Kepala sekolah tersebut menilai, makanan yang disediakan seharusnya benar-benar diperhatikan karena menyangkut kesehatan dan tumbuh kembang peserta didik.
“Program ini niatnya sangat baik untuk membantu siswa, namun pelaksanaannya harus diawasi dengan ketat. Jangan sampai anak-anak justru dirugikan karena makanan yang tidak layak,” ujar kepala sekolah kepada awak media, Senin (12/1/2026).
Menurutnya, beberapa menu yang diterima diduga tidak segar dan tidak sesuai dengan harapan pihak sekolah maupun orang tua siswa. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan yang bisa dialami oleh para siswa apabila makanan tersebut tetap dikonsumsi.
Pihak sekolah mengaku telah menyampaikan laporan dan masukan kepada pihak terkait agar dilakukan evaluasi terhadap dapur MBG, termasuk proses pengolahan, distribusi, hingga pengawasan kualitas makanan.
“Kami berharap instansi terkait segera turun tangan, melakukan pengecekan, dan memastikan menu yang diberikan benar-benar layak, sehat, dan aman untuk dikonsumsi,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola dapur MBG maupun dinas terkait belum memberikan keterangan resmi. Sekolah berharap ke depan pengawasan program dapat diperketat agar tujuan mulia MBG dalam meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan siswa dapat tercapai secara optimal.
(red).
