BATU BARA | Trisakti news : Angin segar bagi pelestarian sejarah pesisir timur Sumatra Utara mulai berembus dari Kabupaten Batu Bara. Sosok Ahmad Khoir, yang diyakini sebagai trah keturunan langsung dari tokoh legendaris Datuk Rao, kini menjadi pusat perhatian menyusul rencana penobatan adat yang dijadwalkan akan berlangsung pada tahun 2026 mendatang.
Rencana ini bukan sekadar seremoni simbolis, melainkan sebuah upaya besar untuk menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap kejayaan dan perjuangan masa lalu di tanah Melayu.
Menilik Jejak Sang Pahlawan Paderi
Nama Datuk Rao tidak dapat dipisahkan dari narasi besar perlawanan terhadap kolonialisme dan penyebaran Islam di Sumatra pada abad ke-19. Sebagai tokoh sentral dalam Perang Paderi yang memiliki pengaruh luas hingga ke wilayah Mandailing dan pesisir timur, jejak sejarahnya merupakan perpaduan antara keberanian militer dan kedalaman spiritual.
Penobatan Ahmad Khoir dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan nilai-nilai kepahlawanan masa lalu dengan realitas sosial masa kini. Di Batu Bara, pengaruh keturunan Datuk Rao telah lama mengakar, menjaga tatanan moral di tengah masyarakat yang heterogen.
Persiapan Matang dan Uji Sahih Adat
Tokoh adat setempat menegaskan bahwa proses menuju tahun 2026 sedang dilakukan dengan sangat teliti. Rencana penobatan ini melibatkan kajian mendalam terhadap silsilah (stamboom) dan konsultasi dengan pemangku adat dari berbagai wilayah terkait.
"Penobatan ini adalah bagian dari menjaga amanah sejarah. Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah sesuai dengan kaidah adat yang berlaku, agar marwah leluhur tetap terjaga," ujar salah satu tokoh masyarakat yang terlibat dalam persiapan tersebut.
Sosok Ahmad Khoir di Mata Masyarakat
Ahmad Khoir dikenal luas sebagai pribadi yang rendah hati namun konsisten dalam menyuarakan pentingnya integritas moral. Dalam berbagai kesempatan sosial, ia kerap mengingatkan bahwa menjadi keturunan tokoh besar adalah sebuah beban tanggung jawab, bukan sekadar previlese.
"Warisan terbaik Datuk Rao bukanlah gelar, melainkan keteguhan iman dan keberanian membela kebenaran," ungkapnya dalam sebuah diskusi budaya beberapa waktu lalu.
Tantangan Transparansi Sejarah
Para pemerhati budaya di Sumatra Utara menyambut baik rencana ini, namun memberikan catatan penting mengenai transparansi. Mengingat sejarah Datuk Rao yang kompleks, validasi fakta sejarah sangat diperlukan untuk menghindari polemik di masa depan. Keterbukaan informasi mengenai struktur adat dan teknis prosesi menjadi kunci agar penobatan ini mendapat legitimasi penuh dari masyarakat luas.
Pengangkatan kembali narasi Datuk Rao diharapkan dapat menjadi literasi sejarah bagi generasi Z dan Alpha di Batu Bara, memperkuat identitas lokal di tengah gempuran arus modernisasi.
Hingga berita ini diturunkan pada Jumat (02/01/2026), komunikasi intensif antara pihak keluarga, pakar sejarah, dan lembaga adat masih terus berlangsung guna mematangkan agenda besar di tahun 2026 tersebut.
(Erda).
